Tampilkan postingan dengan label Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspiratif. Tampilkan semua postingan

Kakek ini Walau hidup Kekurangan Mempunyai Jiwa Kaya

23.47.00 0

Pak Salim //foto: dokumen WAPRI

Sebuah rumah mungil berdinding bambu yang bagian bawahnya sudah hancur dan berlantai tanah ini terletak di Dusun Tawing, Desa Sidorejo RT 4 RW 5, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar.

Di dalamnya hanya ada satu amben (tempat tidur) yang terbuat dari kayu. Di ruangan belakang yang digunakan sebagai tempat memasak hanya ada dapur yang terbuat dari tanah liat. Tanpa ada kamar mandi ataupun WC.

Yang ada hanya padasan kecil (tempayan yang diberi lubang pancuran)  sebagai tempat air  wudhu. Penghuninya adalah seorang lelaki berumur 50 tahun yang bernama Salim atau biasa dipanggil Pak Salim. Ia tinggal seorang diri. Tanpa ada anak dan istri yang menemani.

Tidak seperti pola pikir masyarakat  zaman modern yang pada umumnya cenderung materialisitis, Pak Salim bisa hidup dengan tenang dan damai meski secara materi kehidupannya sangatlah pas-pasan.  Profesi sehari-harinya hanyalah sebagai seorang buruh macul (buruh tani) dengan penghasilan rata-rata tidak lebih dari Rp.500 ribu per bulan. Akan tetapi, Pak Salim bisa menikmati hidupnya, bersyukur atas nikmat yang diberikan Tuhan kepadanya.

Bahkan, yang membuat kita terhenyak adalah ketika sebuah komunitas sosial Solidaritas Wajah Pribumi (WAPRI) yang berkantor pusat di Blitar bermaksud memberikan bantuan baik berupa uang ataupun paket sembako sekitar seminggu yang lalu, Pak Salim dengan halus menolaknya. Jawaban yang ia berikan sungguh bijak dan sangat menyentuh hati.

"Pada saat kami mendapat satu amanah uang tunai sebesar Rp.1.000.000 (satu juta Rupiah) dari sahabat WAPRI untuk  disampaikan kepada Pak salim, beliau menolaknya. Saat itu pada awalnya saya hanya menunjukkan amplopnya, tak menunjukkan nilai nominalnya. Kemudian amplop itu saya buka dan saya hitung di depan beliau.

Rumah Pak Salim //foto: dokumen WAPRI 
Beliau tahu uang itu sebesar satu juta, namun beliau tetap menolak. Setelah agak saya paksa akhirnya alhamdulillah diterima. Namun, satu hal yang  membuat saya terperanjat ketika beliau menggenggam tangan saya  dan menaruh kembali amplop beserta uang itu sambil berkata : 'Uang ini saya terima, tapi tolong sampaikan kepada yang lebih berhak lagi.  Masih banyak di luar sana yang lebih membutuhkan daripada saya'," kata Ahmad Arif Affandi, salah satu aktivis sosial dari WAPRI ketika menceritakan kunjungannya ke rumah Pak Salim kepada penulis.

Aktivis sosial WAPRI sudah tiga kali mengunjungi rumah Pak Salim untuk bersilaturahim. Pada kunjungan yang ketiga, Minggu (15/5/2016) yang lalu, Ahmad Arif Affandi dkk membawa paket sembako dan bermaksud memberikannya kepada Pak Salim, namun lagi-lagi, Pak Salim menolaknya.  Kejadian tersebut membuktikan bahwa jiwa seorang Pak Salim adalah jiwa yang sangat mensyukuri nikmat yang dianugerahkan Tuhan kepada dirinya.

Ia begitu menjaga harga dirinya, serta mampu menjalani hari-harinya dengan sabar. Ikhlas atas ketentuan Illahi Robby.  Padahal, di zaman sekarang banyak orang yang entah sadar atau tidak, sengaja me-miskin-kan dirinya demi sebuah nafsu dan ambisi.

Hilang malu dan nurani. Sukanya menerima tetapi enggan memberi! Ya, di rumah kecil berdinding bambu dan berlantaikan tanah tersebut hidup seorang Pak Salim yang 'kaya'. Dengan mempertebal iman dan tak banyak keinginan, Pak Salim mampu hidup dengan damai dan nyaman dalam kesederhanaan.

salahsatu aktivis WAPRI ketika berkunjung ke rumah Pak Salim // foto: dokumen WAPRI 


Bahkan, nuraninya mampu melihat bahwa di luar sana masih banyak orang-orang yang hidupnya jauh lebih memprihatinkan dari dirinya.  Tulisan ini tidak ada maksud dan tujuan apa-apa selain sebagai sebuah perenungan bahwa ketenteraman hidup tidak semata-mata ditentukan oleh harta dan tahta.  Tulisan ini juga ungkapan sebuah fakta betapa sangat kontras dan begitu lebarnya gap kesenjangan sosial antara si miskin dan si kaya di negeri tercinta Indonesia.

Kehidupan Pak Salim yang lugu, polos dan sederhana bertolak belakang dengan moral (sebagian) oknum penguasa yang masih sering bermain-main dengan uang haram yang taruhannya tidak sekedar rompi oranye KPK tetapi juga harga diri di mata masyarakat serta pertanggung jawaban perbuatannya kelak di hadapan Tuhan meski sebenarnya mereka sudah kaya dan berlimpah harta.

Ya, di rumah kecil berdinding bambu dan berlantaikan tanah tersebut hidup seorang Pak Salim yang 'kaya'. Menolak pemberian bukan karena kesombongan tetapi merasa cukup dan bersyukur. Nuraninya mampu melihat bahwa di luar sana masih banyak saudara-saudara kita yang lebih memerlukan uluran tangan.

sumber: Wajah Pribumi Solidarity [Ahmad Arif Affandi]

Sumber : http://www.kompasiana.com/figo/inilah-rumah-orang-kaya-itu_574061b908b0bdda08bf0a6d

Meliani Siti Sumartini (17) - Rocker Cadas Berjilbab, Kupas Tuntas di Hitam Putih

23.22.00 0


Meliani Siti - si gadis berjilbab yang lihai main musik underground tampil di acara Hitam Putih Trans7, Selasa (13/1/2015).

Dua host acara tersebut, Deddy Corbuzier dan Nycta Gina tampak takjub menyaksikan aksi kedua bintang debutan. Meliani dan Indah 

Kisah Inspiratif: Anak Tukang Becak Kuliah S2 di Inggris

23.55.00 0
foto: unnes.ac.id
KABARDUA.COM - Kisah lulusan terbaik Universitas Negeri Semarang (Unnes) 2014 Raeni mendapat perhatian luas dari masyarakat. Banyak anggota masyarakat yang mengapresiasi kecerdasan, kerja keras, dan kerendahatiannya sehingga bisa memperoleh prestasi cemerlang.

Semester pertama dituntaskan oleh lulusan SMK 1 Kendal ini dengan indeks prestasi 4,00. Sebuah prestasi akademik yang tidak hanya membanggakan, tetapi sempurna. Semester berikutnya memang turun, yakni “hanya” 3,96. Dengan begitu, untuk sementara indeks prestasi kumulatif (IPK)-nya 3,98. Nyaris sempurna.

Kepala Humas Unnes Sucipto Hadi Purnomo mengabarkan, sejumlah perusahaan menyatakan minatnya untuk merekrut sarjana pendidikan ekonomi ini bekerja. Selain itu, sebuah foundationjuga menyatakan minatnya menyeponsori gadis kelahiran Kendal ini kuliah S2 di Inggris.

Kabar tentang Raeni pada mulanya dipublikasikan di laman unnes.ac.id, kemudian diberitakan media cetak. Kisah tentang Raeni juga tersebar melalui media sosial. Raeni juga baru saja menerima undangan dari Net.Tv supaya menjadi narasumber pada acara Indonesia Morning. Net.Tv ingin menghadirkannya sebagai sosok muda yang cerdas untuk memotivasi anak-anak muda lain di Tanah Air.

Dari Jakarta, Rektor Unnes Prof Dr Fathur Rokhman MHum mengabarkan, pihaknya akan memfasilitasi Raeni untuk kuliah di S2 sebagaimana ia cita-citakan. Ia akan mengupayakan beasiswa bagi salah satu alumninya itu. “Beasiswa itu kami upayakan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,” katanya.

Bagi Fathur, Raeni telah memberikan pesan penting kepada kita bahwa pendidikan dapat menjadi alat memotong mata rantai kemiskinan. Pemerintah telah mengupayakan supaya anak-anak berpestasi dari keluarga tidak mampu dapat menikmati pendidikan tinggi. “Di luar itu, yang paling penting dari diri Raeni adalah tentang pentingnya kesungguhan. Dia membuktikan kepada kita semua, kondisi keluarga yang berkekurangan tidak jadi kendala jika diiringi dengan tekad yang kuat,” lanjutnya.

Ayahnya, Mugiyono, adalah tukang becak dengan penghasilan Rp10.000 – Rp50.000 per hari. Untuk menambah penghasilan Mugiyono bekerja sebagai penjaga malam sebuah sekolah dengan gaji Rp450.000 per bulan.

Raeni mendapat kesempatan kuliah setelah menerima beasiswa Bidikmisi. Ia berhasil merampungkan pendidikan S1 dalam tujuh semester dengan IPK nyaris sempurna. Raeni juga dikenal aktif berorganisasi.

Dosen-dosennya di Fakultas Ekonomi (FE) Unnes mengenalnya sebagai pribadi yang cerdas dan santun. Kepada kawan-kawannya ia tak segan mengakui bahwa dirinya adalah putri tukang becak. Bahkan saat mengikuti wisuda, Raeni tak malu diantar ayahnya menggunakan kendaraan roda tiga itu.

Sumber : unnes.ac.id